Tampilkan postingan dengan label Tradisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tradisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Juni 2015

Beseprah Warisan Tradisi Masyarakat Kutai

reborneo.com – Acara yang ditunggu dari masyarakat Kutai Kartanegara khususnya Tenggarong, yakni makan bersama - sama dengan duduk bersila / lesehan yang merupakan tradisi etnis Kutai dikenal dengan nama "Beseprah". Sejak pagi (10/6) jam 08.30 Wita seluruh Dinas SKPD, sponsor dan masyarakat sangat antusias terlihat dari banyaknya yang hadir memadati ruas jalan dari Jembatan Besi sampai dengan Jalan Mulawarman, depan SMAN 1 Tenggarong.

( Bupati Kukar memberikan sambutan )

Hadir juga Bupati Kutai Kartanegara, Rita Widyasari bersama Ketua DPRD Kukar Salehuddin dan Putera Mahkota Kesultanan H. Adji Praboe Anoem Soerja Adiningrat dan perwakilan dari Delegasi EIFAF 2015, dalam sambutannya Rita Widyasari mengungkapkan tradisi beseprah bertujuan untuk mempererat hubungan silaturahmi. Terutama antara para petinggi atau penguasa dengan rakyatnya. Disamping media saling menyampaikan informasi maupun aspirasi dari atasan ke bawah atau sebaliknya. Sebab melalui media beseprah interaksi dan kohesifitas sosial menjadi lancar.

( Pemukulan Kentongan menandai dimulainya Beseprah

Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari, Putera Mahkota, Ketua DPRD dan bersama perwakilan dari Delegasi EIFAF 2015 menandai dimulainya acara tersebut dengan pemukulan kentongan secara bersama - sama. dan dalam waktu 1 jam ratusan macam kuliner serta minuman ludes dimakan.(rhi)

( Bupati Kukar makan bersama )

( Salah satu peserta EIFAF sedang menikmati makanan )

( Masyarakat Tenggarong )

Selasa, 09 Juni 2015

Ngatur Dahar

Jamuan Khusus atau Ngatur Dahar dilakukan setelah rombongan utusan Kesultanan yang melaksanakan pengambilan air di Kutai Lama kembali ke Keraton dengan menyajikan 41 macam jenis hidangan.


Selain hidangan untuk tamu, juga disedian hidangan bagi " Orang Halus " atau para penghuni alam yang tak terlihat. Acara ini dihadiri ini dihadiri Sultan Kutai Kartanegara H. Adji Muhammad Salehuddin II dan Putera Mahkota H. Adji Praboe Anoem Soerja Adiningrat bersama kerabat keraton.

Sabtu, 23 Mei 2015

Mengulur Naga

reborneo.com - Dipuncak dari kemeriahan pesta adat Erau di hari ketujuh dilakukan ritual yang sakral yang diberi nama mengulur naga, dimana rombongan Keraton Kutai mengarak sepasang replika naga menggunakan kapal untuk dilepaskan di sungai di Kutai Lama, tempat asal legenda naga tersebut makhluk legendaris dalam legenda Putri Karang Melenu.


Kedua replika naga memiliki panjang kurang lebih 31,5 meter, dengan kepala dan ekor yang terbuat dari kayu. Badan naga terbuat dari rangka rotan dan bambu yang dibungkus kain berwarna kuning, dihiasi kain perca warna-warni sebagai sisiknya. Kedua naga dibuat sebelum Festival Erau berlangsung dan disemayamkan di kedua sayap bangunan Keraton Kutai (Gedung Museum Mulawarman),dan diberi nama Naga Bini dan Naga Laki.


Sepanjang perjalanan, kapal yang membawa replika naga ini akan singgah di sejumlah tempat untuk memberi kesempatan pada dewa (wanita pengabdi ritual) dan belian (pria pengabdi ritual) untuk melakukan ritual berkomunikasi (memang) dengan dunia gaib. Sesampainya di Jaitan Layar, Kutai Lama, kapal akan berputar sebanyak tujuh kali sebelum akhirnya merapat ke tepian, setelah itu bagian kepala dan ekor naga dipisahkan dari badannya. Bagian kepala dan ekor dibawa kembali ke Keraton untuk pesta adat Erau di tahun-tahun berikutnya, sedangkan bagian tubuh naga diturunkan (dilaboh) dari atas kapal ke sungai. Masyarakat akan berlomba-lomba mendapatkan bagian sisik dari naga yang dipercaya memiliki kekuatan untuk mewujudkan harapan pemiliknya.


Upacara ini merupakan riwayat legenda tentang Putri Karang Melenu, permaisuri dari raja pertama Kutai, Aji Batara Agung Dewa Sakti. Kedua pasangan yang menjadi cikal bakal keluarga Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ini dikisahkan bukan merupakan keturunan manusia biasa. Keduanya muncul dari dua kejadian misterius yang kemudian secara turun temurun terpelihara menjadi legenda masyarakat Kutai. Legenda yang mengisahkan bayi Aji Batara Agung Dewa Sakti muncul tiba-tiba di depan rumah seorang pembesar masyarakat Jaitan Layar. Bayi tersebut terbaring di atas Batu Raga Mas dengan tangan kanan menggenggam sebutir telur ayam dan tangan kirinya menggenggam keris emas. Dikisahkan bahwa tujuh dewa turun dan memberikan petunjuk pada sang pembesar bahwa anak tersebut berasal dari khayangan dan harus dibesarkan dengan cara yang berbeda dengan anak manusia biasa. Sang permaisuri dikisahkan juga muncul secara misterius dari dasar Sungai Mahakam. Bayinya terbaring di atas sebuah gong yang dijunjung oleh seekor naga yang muncul dari pusaran air. Naga tersebut kemudian mengantarkan Putri Karang Melenu ke hadapan seorang petinggi Hulu Dusun yang telah membesarkan sang naga. Sang pembesar kemudian menjadi orangtua angkat yang membesarkan sang putri hingga dewasa. (rhi)


Jumat, 22 Mei 2015

Tambak Karang

reborneo.com - Tambak karang adalah lukisan atau gambar berwarna-warni yang berfungsi sebagai alas dari area pelaksanaan suatu ritual sakral tertentu dalam Erau. Gambar atau lukisan ini terbuat dari beras yang diberi berbagai macam warna. Beras-beras ini disusun sedemikian rupa sehingga membentuk motif khusus yang masing-masing memiliki makna dan fungsi yang spesifik dan merupakan Salah satu pernak-pernik tradisi unik yang dapat ditemukan dalam penyelenggaraan Pesta Adat Erau.


Sejak dahulu motif tambak karang dibuat oleh petugas khusus di kalangan abdi keraton, dimana dalam membuatnya memerlukan keterampilan tinggi. Keterampilan dan tugas ini diwariskan turun temurun kepada anak-cucunya. Meski demikian, kini pembuatan tambak karang dilakukan dengan bantuan pola atau cetakan, karena kualitas keterampilan dari para pembuat tambak karang telah berubah seiring zaman. Secara garis besar, ada beberapa jenis motif tambak karang, yaitu lembu suana, karang genta, karang dungkul, karang indra geni, karang terate, karang daulan, dan karang paoh.


Tambak karang dapat ditemukan di beberapa ritual sakral yang berlangsung dalam Pesta Adat Erau yakni Mendirikan tiang Ayu, Beluluh, Menyisik Lembuswana yang dilaksanakan pada malam ketujuh. Pada ritual mendirikan tiang ayu tambak karang yang digunakan bermotif empat naga dan seluang emas berwarna warni sebagai alas dari kasur kuning yang menjadi tempat bersemayamnya Sangkoh Piatu. Pada bagian moncong dari setiap naga, diletakkan dua buah pisang yang menyimbolkan taring. Di antara kedua pisang, diletakkan sebutir telur ayam kampung putih yang melambangkan kemala (batu pusaka).


Sedangkan untuk ritual beluluh, tambak karang digunakan sebagai alas dari balai yang terbuat dari bambu dengan jumlah tiang yang beragam, tergantung status orang yang didudukkan di atasnya. Setelah upacara beluluh selesai, beras warna-warni dari tambak karang ini dikumpulkan dan dibawa ke kerumunan masyarakat yang memadati pelataran depan Keraton. Beras ini akan diperebutkan oleh warga karena dianggap membawa berkah atau peruntungan bagi mereka. dan untuk ritual menyisik lembusuana, digunakan tambak karang bermotif lembu suana. Tambak karang ini dibuat dengan menggunakan beras dengan 37 jenis warna. Saat ritual berlangsung, kerabat Kesultanan dan para tamu akan melemparkan uang ke arah gambar lembu suana sambil menghaturkan keinginan/niat. Uang yang terserak di atas lukisan ini akan diserahkan kepada para dewa (wanita pengabdi ritual) dan belian (pria pengabdi ritual) yang mengabdikan diri untuk menjalankan ritual-ritual Keraton Kutai. (rhi)

Kamis, 21 Mei 2015

Menjamu Benua

reborneo.com - Sebelum Festival Erau berlangsung, ada salah satu ritual yang disebut menjamu benua, dimana menjamu benua adalah mengabarkan Erau ke Dunia Gaib dan pembuka komunikasi dengan "mahluk halus" bahwa Sultan Kutai telah memutuskan untuk menyelenggarakan Erau dan telah menentukan waktu pelaksanaannya. Ritual ini dilakukan untuk memohon keselamatan serta kelancaran selama Erau berlangsung. Dengan mengadakan Menjamu Benua, diharapkan para ‘mahluk halus’ tidak mengganggu selama penyelenggaraan acara, karena masyarakat Kutai yang masih memegang kepercayaan yang kuat mengenai hubungan antara kehidupan alam manusia dan alam gaib.


Ritual ini di diselenggarakan oleh sebuah rombongan yang terdiri dari 7 orang dewa (dukun wanita), 7 orang belian (dukun pria), 7 pangkon bini, dan 7 pangkon laki. Para penabuh gendang dan gamelan juga akan mengiringi sepanjang prosesi ritual dilakukan dimana rombongan ini membawa sesajian aneka macam jajak/jajanan pasar, nasi tambak, nasi ragi, ayam panggang, mandau, air minum, dan peduduk yang akan diletakkan di tiga titik, yaitu Kepala Benua (Kelurahan Mangkurawang), Tengah Benua (depan keraton), dan Buntut Benua (Kelurahan Timbau). Selain itu, para dewa dan belian juga membawa pakaian Sultan sebagai pengganti kehadiran Sultan secara fisik sepanjang ritual ini diadakan.


Ketiga titik yang dijadikan tempat peletakan sesajian melambangkan batas dan pusat dari Kota Tenggarong yang pada masa lalu menjadi ibukota dari Kesultanan Kutai. Kepala Benua merupakan titik paling utara (hulu) dari Tenggarong, Tengah benua merupakan simbol pusat dari wilayah Tenggarong, sementara Buntut Benua melambangkan sisi paling selatan (hilir) dari wilayah Tenggarong.


Ritual dimulai di kediaman Sultan untuk memohon restu dari Sultan untuk berangkat melaksanakan Menjamu Benua. Dari kediaman Sultan, rombongan menuju ke tiga titik yang telah ditentukan. Ketika sampai di setiap titik, sesajian tersebut akan diletakkan di tempat yang telah ditentukan. Jajak yang diletakkan di tembelong ditempatkan di atas juhan bersama nasi tambak, ayam panggang, mandau, air minum, dan rokok. Sementara, peduduk dan ayam hitam diletakkan di bagian bawah dari juhan. Selain itu, diletakkan pula nasi tambak di atas telasak tunggal dan nasi ragi di atas telasak gantung. Setelah semua sesajian siap, dewa menghadap ke Sungai Mahakam untuk melakukan memang (pembacaan mantra) dan melakukan besawai (membaca doa sambil menebarkan beras, bunga, dan lainnya). Selanjutnya rombongan menuju ke Tengah Benua dan terakhir ke Buntut Benua untuk melakukan ritual yang serupa.


Untuk ritual di Buntut Benua ada sedikit perbedaan pada ritual yang dilakukan. Di tempat ini, disediakan dua buah telasak gantung yang dipasang berlawanan arah dan hiasan janur yang diikat simpul sebagai pertanda ritual Menjamu Benua telah selesai. Setelah ritual ini selesai dilakukan di tiga titik, rombongan kembali ke kediaman Sultan untuk melaporkan bahwa ritual telah selesai dilaksanakan.(rhi)

Rabu, 20 Mei 2015

Bepelas

Pada setiap malam selama tujuh hari dalam penyelenggaraan Erau, akan terdengar suara menggelegar dari depan Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara (Museum Mulawarman). Suara tersebut adalah suara dentuman dari meriam yang terdapat di pelataran depan museum. Dentuman meriam menjadi pertanda bahwa ritual bepelas tengah dilakukan. Ruang Stinggil (Siti Hinggil) dipenuhi kerabat Kesultanan dan tamu undangan yang mengelilingi Tiang Ayu. Dewa (wanita pengabdi ritual) dan belian (pria pengabdi ritual) melakukan tari-tarian sakral dan menghaturkan mantra kepada para arwah di alam gaib.

(Meriam VOC yang dulu digunakan saat acara)

Bepelas menjadi salah satu rangkaian ritual sakral di Erau. Dalam ritual ini, Sultan atau Putra Mahkota Kutai melakukan ritual berjalan menuju Tiang Ayu dengan tangan kiri berpegangan pada kain cinde dan tangan kanan memegang tali juwita. Sesampainya di hadapan Tiang Ayu, Sultan atau Putra Mahkota akan menginjak pusaka Gong Raden Galuh yang segera disambut dengan dentuman meriam. Biasanya, bepelas dilakukan oleh Sultan pada malam pertama hingga ketiga, sedangkan malam-malam selanjutnya dilakukan oleh Putra Mahkota.

(Jumlah injakan pada Gong Raden Galuh berbeda pada setiap malamnya, sesuai urutan harinya)

Banyaknya Gong Raden Galuh diinjak berbeda-beda setiap harinya, sesuai urutan hari pelaksanaanya. Jumlah dentuman meriam yang terdengar pun berbeda-beda mengikuti berapa kali Sultan menginjak gong pada malam tersebut. Di hari pertama, akan terdengar satu dentuman. Pada hari kedua terdengar dua dentuman, begitu seterusnya hingga hari ketujuh.

Ritual bepelas berlangsung setelah prosesi merangin selesai dilaksanakan di Serapo Belian, kecuali ketika jatuh pada malam Jumat. Sebelum Sultan atau Putra Mahkota melakukan bepelas, dewa dan belian terlebih dahulu menjalankan sejumlah ritual. Ritual yang dilakukan dimulai dengan berputar mengelilingi Tiang Ayu sebanyak tujuh putaran. Setelah tujuh putaran, para belian duduk berjajar di sisi kiri Tiang Ayu sedangkan para dewa duduk di sisi kanan dari Tiang Ayu.

Selanjutnya, dilakukan sejumlah tarian sakral oleh para dewa. Tari yang pertama dilakukan adalah tari selendang dengan mengelilingi Tiang Ayu sebanyak satu kali. Lalu dilanjutkan tari kipas dan tari jung njuluk. Selanjutnya, pawang dewa mengucapkan mantra (memang) untuk menghadirkan Dewa Karang dan Pangeran Sri Ganjur yang dipercaya menjadi penjaga Tiang Ayu dari gangguan alam gaib sepanjang pelaksanaan bepelas.

Kemudian, seorang dewa akan melakukan tari dewa memanah. Tari ini dilakukan menggunakan sebuah busur dan batang kayu berapi sebagai anak panahnya. Sang penari akan berkeliling satu putaran lalu melepaskan anak panah berapi tersebut ke empat penjuru saat berputar untuk kedua kalinya. Jika api yang ada di anak panah mati, sang penari harus menyalakannya kembali dengan api dari nyala lilin yang mengelilingi Tiang Ayu.

(Tari Ganjur)

Selepas tari tersebut, dilakukan tari ganjur oleh empat orang pria, dengan mengenakan ikat kepala khusus dan gada kain (ganjur). Tari ini dilakukan sebanyak satu putaran lalu dilakukan kembali satu putaran oleh empat orang yang berbeda (beganjur), biasanya mengajak dua tamu kehormatan yang didampingi dua orang kerabat Kesultanan. Setelah putaran kedua, dilakukan tari ganjur oleh seorang pria, diikuti oleh beberapa orang dewa. Selepas rangkaian prosesi tersebut dilakukan, barulah bepelas dilakukan oleh Sultan atau Putra Mahkota.

Senin, 18 Mei 2015

Mendirikan Tiang Ayu

Mendirikan Tiang Ayu, Pertanda Pesta Rakyat Telah Dimulai

Setelah ritual pra-Erau selesai dilaksanakan, festival ini pun dapat diselenggarakan. Sultan akan membuka pesta rakyat yang sudah berusia lebih dari 700 tahun ini dengan ritual mendirikan ayu. Dalam ritual ini, sejumlah pusaka kesultanan disandingkan di Ruang Stinggil (Siti Hinggil), Keraton Kutai. Sesuai nama ritual ini, maka pusaka utama yang menjadi fokus ritual ini adalah Tiang Ayu.


Yang disebut dengan Tiang Ayu adalah sebuah tombak pusaka yang disematkan sebuah kantung kain berwarna kuning. Tombak pusaka ini bernama Sangkok Piatu, tombak milik raja pertama Kutai, Aji Batara Agung Dewa Sakti. Di dalam kantung yang diikatkan padanya, terdapat beberapa kelengkapan ritual lain, yaitu tali juwita, kain cinde, janur kuning, daun sirih, dan buah pinang.

Sebelum ritual dimulai, Tiang Ayu direbahkan menghadap ke arah singgasana Sultan. Pusaka ini diberi alas selembar kasur berwarna kuning dan dilapisi kain kuning bermotif merah yang disebut tapak liman. Di bawah kasur tersebut, disiapkan lukisan tambak karang berwujud empat ekor naga dan seluang mas warna-warni. Di kedua sisi Tiang Ayu, diletakkan dua buah pusaka, Gong Raden Galuh dan Batu Tijakan.


Sebagai pelengkap ritual, ada beberapa barang yang disiapkan, di antaranya lilin besar, lilin kecil, peduduk, pakaian sultan yang dialasi sebuah piring, dan jalinan daun kelapa yang disebut jambak. Kelengkapan tersebut ditempatkan di keempat sudut tambakkarang. Persiapan lainnya adalah balai persembahan di sisi sebelah kanan kerangka penyangga Tiang Ayu. Balai ini berisi peduduk, pakaian sultan, serta sebuah jabangan mayang siur. Di sebelah kiri kerangka penyangga, terdapat guci berisi air Kutai Lama dan sebuah jabangan berisi mayang pinang.

Pelaksanaan Tiang Ayu didahului dengan ritual yang dilakukan oleh para dewa (wanita pengabdi ritual) dan belian (pria pengabdi ritual) di Serapo Belian. Selesai ritual di Serapo Belian, dewa dan belian duduk di sisi kanan dan kiri dari Tiang Ayu. Saat Sultan memasuki ruangan, semua hadirin akan berdiri dan Sultan berdiri menghadap Tiang Ayu. Para dewa melakukan besawai, kemudian Tiang Ayu diangkat oleh beberapa orang keluarga Keraton dan diletakkan dalam penyangganya. Setelah Tiang Ayu berdiri, seluruh hadirin berdoa bersama untuk kelancaran Festival Erau.

Sabtu, 16 Mei 2015

Hadang ( Asen Naga )

Hadang, Permainan Tradisional yang Tetap Bertahan

Jika mendengar nama Hadang, mungkin masih terdengar asing di telinga kita. Hadang adalah permainan tradisional yang sering dikenal dengan Asen Naga yang dimainkan secara beregu dengan jumlah anggota regu sebanyak 8 orang dan terdiri dari 5 orang pemain inti serta 3 orang cadangan.


Untuk bermain permaianan tradisional ini, biasanya membutuhkan area petak persegi panjang yang mempunyai panjang lapangan 15 meter dan lebar 9 meter. Kemudian area dibagi 6 petak dengan ukuran masing-masing petak 4,5 meter x 5 meter. Pinggir lapangan sebaiknya diberi tanda dengan kapur. Garis permainan ditandai dengan garis selebar 5 cm, dan upayakan pembuatan garis tersebut tidak mudah luntur atau hilang.


Permainan hadang biasanya dilakukan dalam waktu 2 x 15 menit. Pemenang dalam permainan ini ditentukan dari besarnya nilai yang diperoleh salah satu regu, setelah permainan berakhir. Penetapan nilai diambil dari setiap pemain yang berhasil melewati garis depan sampai dengan garis belakang diberi nilai satu, dan pemain yang juga berhasil melewati garis belakang sampai dengan garis depan diberi nilai satu. dengan menjaga daerahnya maisng – masing agar tidak di lewati oleh pihak lawan apabila pihak lawan terkena sentuhan oleh yang menjaga pertahanan maka dinyatakan kalah.


Selasa, 12 Mei 2015

Seraung

Seraung, Pelindung Kepala Khas Kalimantan

Topi ini adalah topi lebar khas Suku Dayak dan menjadi pelindung kepala dalam aktifitas sehari-hari yang biasa dipakai ketika pergi ke luar rumah, terutama ketika melakukan aktivitas di hutan. Selain itu, seraung juga sering dikenakan dalam ritual upacara adat di sana. Seraung memiliki ukuran yang lebar dan sekilas mirip dengan topi caping inilah seraung topi khas Suku Dayak yang banyak kita temui di kawasan Kalimantan khususnya dayak Kenyah yang tinggal di Lekaq Kidau, Kalimantan Timur.

( Macam - motif hiasan seraung )

Seraung terbuat dari daun biru, sejenis daun palem yang lebar dan banyak tumbuh di hutan-hutan Kalimantan. Daun sang sendiri saat ini sangat susah di dapatkan. Orang Dayak Kenyah di Datah Bilang Hilir harus menempuh 2,5 jam perjalanan menggunakan perahu ketinting, dan dilanjutkan berjalan kaki sekitar 2 jam untuk mencari daun sang yang pohonnya tumbuh di hutan. Mereka kini mengganti bahan dasar seraung dengan sejenis pohon pandan atau kajang yang lebih mudah diperoleh.

( Salah satu penari memakai seraung )

Proses pembuatan topi ini dimulai dengan menyiapkan bahan dasar berupa beberapa puluh bilah daun sang yang dijemur sekitar seminggu, kemudian dicuci hingga bersih sekitar lima menit untuk memudahkan proses pembukaan daun. Daun yang telah terbuka diluruskan dengan cara digulung-gulungkan di tangan, lalu disimpan di bawah tikar agar lurus dan rata selama sekitar seminggu. Daun sang yang sudah lurus dan rata inilah yang kemudian dianyam melingkar seperti kerucut. Biasanya, daun-daun ini akan dilapis dengan kain yang berwarna cerah, lalu dihias dengan manik-manik atau sulaman. Sementara itu bagian dalam topi seraung terbuat dari anyaman daun kering yang kemudian dijahit dengan tangan. Lingkaran topi diperkokoh dengan lidi dari daun kelapa. Bagian permukaan topi kemudian dilapisi potongan kain warna-warni sebelum diperindah dengan hiasan manik-manik. Manik-manik biasanya dirangkai menjadi motif-motif sulur khas Dayak.Warnanya yang cantik dan memanjakan mata menjadikan seraung saat ini sering dipakai menjadi hiasan dinding. Bahkan, belakangan, seraung banyak dijadikan souvenir khas Kalimantan yang diburu para wisatawan baik asing maupun domestik.