Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pariwisata. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Mei 2015

Taman Wisata Pulau Kumala

Kawasan Pulau Kumala merupakan daerah delta yang menyerupai pulau kecil di tengah Sungai Mahakam. Pulau kecil ini memanjang ke sebelah barat Kota Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara. Sebelumnya, Pulau Kumala hanyalah sebuah lahan bersemak belukar yang sama sekali tidak produktif dan hanya dihuni binatang-binatang liar. Pulau kecil ini akan tenggelam ketika air Sungai Mahakam sedang pasang. Sementara saat air sungai surut, keberadaannya malah menghambat perjalanan kapal-kapal yang melewati sungai Mahakam. Kondisi inilah yang membuat pemerintah daerah Kabupaten Kutai Kartanegara memutuskan untuk mengeruk Sungai Mahakam. Material yang didapat dari pekerjaan pengerukan ini kemudian dijadikan bahan utama untuk menambah ketinggian Pulau Kumala agar tidak tenggelam saat air Sungai Mahakam sedang pasang. Dan sejak tahun 2000, daratan seluas 76 hektare ini dirancang pemerintah daerah setempat untuk menjadi sebuah taman wisata rekreasi yang arsitekturnya merupakan perpaduan antara teknologi modern dan budaya tradisional.


Pembangunan Taman Wisata Pulau Kumala tidak dilakukan secara langsung namun bertahap dan berkembang. Tiap tahunnya terus-menerus dilakukan penambahan Fasilitas rekreasi yang akan dapat terus menarik pengunjung, khususnya bagi pengunjung yang membawa keluarganya untuk berakhir pekan dan menikmati segala fasilitas di Pulau Kumala yang Eksotis.Di pulau ini juga terdapat DJS Resort Pulau Kumala lengkap dengan Kolam Renang, restoran, Cottage dan Sarana Bagi mereka yang ingin istirahat.


Pada September 2002, bersamaan dengan digelarnya Festival Erau (festival budaya masyarakat Kutai Kartanegara), Pulau Kumala secara resmi dibuka sebagai tempat rekreasi untuk masyarakat umum. Di taman wisata ini, pengunjung bisa menikmati sejumlah wahana, diantaranya: Sky Tower setinggi 75 meter untuk menikmati panorama kota Tenggarong, Mini Train untuk mengelilingi pulau, Kereta Gantung (cable car) untuk menghubungkan Tenggarong Seberang dengan Pulau Kumala, akuarium pesut Mahakam, trampolin, dan arena permainan lainnya.


Di kedua ujung Pulau kumala terdapat 2 Patung naga dan Patung Lembuswana yang menghadap Jembatan Kutai Kartanegara. Dalam waktu dekat untuk memudahkan para wisatawan untuk menyebrang ke Pulau Kumala, saat ini Pemerintah sedang membangun Miniatur Jembatan " Golden Gate " Kutai Kartanegara yang pernah runtuh pada tanggal 26 Nopember 2011. yang bisa dilalui dengan jalan kaki.(rhi)

Selasa, 19 Mei 2015

Museum Kayu Tuah Himba

Museum Kayu Tuah Himba ini terletak di kawasan Waduk Panji Sukarame, yaitu berjarak sekitar 600 meter dari Waduk, Tenggarong, Kalimantan Timur.Berjarak 3 kilometer dari pusat Kota Tenggarong, Museum Kayu menyimpan jenis-jenis kayu yang tumbuh subur di Pulau Borneo. Kayu-kayu yang menjadi koleksi di museum ini mencapai 220 jenis kayu perdagangan. Di antara kayu-kayu yang menjadi koleksi museum ini adalah kayu ulin yang hanya tumbuh di Pulau Kalimantan.


Museum Kayu dibangun pada tahun 1990-an dengan menggunakan kayu sebagai bahan dasar. Berbentuk rumah panggung khas Kalimantan yang berukuran 20 x 20 M2. Bangunan ini di kelilingi oleh pohon-pohon tinggi menyerupai hutan lindung. museum ini memiliki nama lengkap Museum Kayu Tuah Himba. Kata “Tuah himba” diambil dari semboyan Kota Tenggarong,yakni “Tuah Himba Untung Langgong” yang berarti menjaga kekayaan hutan dan alam, maka manfaat yang diperoleh akan langgeng (lancar).

Museum ini juga terdapat 2 buaya muara (Crocodelus Porosus) yang telah diawetkan dalam Museum Kayu tersebut. Kedua ekor Buaya ini sempat membuat heboh warga Kalimantan timur pada tahun 1996. Karena memangsa dua orang manusia di Sanggata ( Kutai Timur, pada tahun itu belum ada pemekaran untuk Kabupaten Kutai ) dan Muara Badak (Kutai Kartanegara). Buaya Pertama ditangkap pada 8 maret 1996 di Sungai kenyamukan, Kecamatan Sanggata setelah memangsa Ny. Hairano (35). Buaya Jantan yang memangsanya berusia sekitar 70 Tahun memiliki panjang 6,6 meter dengan berat 350 Kg serta lingkar perut 1,8 meter. sementara itu buaya yang kedua memangsa pria bernama Baddu (40), Buaya berjenis kelamin betina ini memiliki panjang 5,5, meter, berat 200 kg, dengan lingkar Perut sekitar 1 meter ditangkap di Tanjung Limau, Kecamatan Muara Badak pada tanggal 10 April 1996. di dekat lemari kaca terdapat juga potongan artikel berita dari media cetak yang menginformasikan tentang kejadian tentang keganasan Buaya tersebut. Buaya ganas ini ditempatkan di bagian tengah museum sebagai penanda selamat datang kepada pengunjung.


Selain itu di ruang yang lain,Pengunjung dapat menyaksikan beraneka ragam koleksi yang berkaitan dengan kehutanan, khususnya hutan Kalimantan yang kaya akan berbagai jenis pohon dan terdapat koleksi berupa berbagai jenis daun yang tersebar di seluruh Kalimantan Timur. serta terdapat fosil kayu yang telah berumur ratusan tahun dan telah berubah menjadi batu.

Beda lagi dengan koleksi yang tersimpan di Ruang Ukiran. Di ruang ini, terdapat ukiran-ukiran kayu khas Kalimantan. Patung khas Dayak Kenyah, rumah betang, atau rumah panjang khas Dayak berukuran mini ikut melengkapi kerajinan yang tersusun rapi di sudut-sudut ruang.


Koleksi lain di Museum Kayu adalah lempengan kayu kapur dengan diameter 60 centimeter. Di alam, pohon ini mampu tumbuh hingga ketinggian mencapai 60 meter. Kayu ini biasa digunakan sebagai pondasi bangunan.

Ruang yang lain dikhususkan untuk menyimpan berbagai kerajinan berbahan dasar rotan. Kerajinan yang menjadi koleksi di ruang ini seperti perabotan rumah, lampu taman, kursi, hingga rotan sebagai bahan dasar pembuat aneka kerajinan tersebut.

Koleksi lain dari Museum kayu ini, di antaranya adalah:
• Kerajinan Dayak, diantaranya adalah anjat, mandau, ukiran Dayak yang terbuat dari kayu ulin
• Miniatur rumah khas Dayak
• Jenis-jenis kayu di huatan daerah Kutai Kartanegara
• Koleksi jenis kayu 200 buah
• Koleksi jenis-jenis daun kayu yang dikeringkan 200 buah
• Koleksi biji-bijian
• Koleksi potongan log atau batangan pohon yang tumbuh di Hutan Kalimantan
• Koleksi Kepiting pemakan sari kelapa
(rhi)

Senin, 18 Mei 2015

Taman Anggrek Sendawar

Lokasi Taman Anggrek Sendawar berada dalam kawasan Waduk Panji Sukarame dan terletak di belakang Waduk. Wilayah dengan luas ± 2 ha. Taman yang telah ada sejak tahun 1995 ini dapat menjadi tujuan bagi mereka yang ingin melihat salah satu kekayaan hayati yang dimiliki alam Kalimantan, yaitu anggrek.


Wahana Taman Anggrek dengan luas 2 hektare ini menjadi tempat budidaya ± 43 jenis koleksi Anggrek yang dikumpulkan dari berbagai daerah kecamatan. Dibukanya objek wisata ini adalah untuk melestarikan kekayaan flora khas yang ada di Kalimantan. Biasanya tempat ini dikunjungi oleh pengunjung pada akhir pekan maupun liburan. Tidak hanya bisa Anda nikmati kecantikannya saja, berbagai tanaman anggrek tersebut juga Anda bisa bawa pulang dengan membelinya. Pengelola waduk memang sengaja memberikan fasilitas-fasilitas tersebut sebagai daya tarik tersendiri. (rhi)

Minggu, 17 Mei 2015

Waduk Panji Sukarame


Waduk Panji Sukarame, semula adalah telaga yang dibendung dan dijadikan waduk untuk mengairi sawah bagi penduduk sekelilingnya. Pembendungan ini ternyata menciptakan sebuah danau buatan dengan panorama yang indah, dikelilingi kerimbunan hutan yang asri. Danau buatan ini pun kemudian dikembangkan menjadi wahana wisata keluarga oleh pemerintah Kutai Kartanegara.


Bahkan, Waduk Panji Sukarame kemudian menjadi salah satu kawasan wisata andalan Kota Tenggarong. Wahana seluas 32 hektare ini memiliki sejumlah wahana rekreasi keluarga, di antaranya permainan sepeda air, flyingfox, dan becak mini. Bagi yang tertarik untuk bersantai dan menikmati keindahan alam, terdapat sebuah menara tempat pengunjung dapat melihat panorama sekeliling waduk secara lebih utuh. Di sekeliling waduk juga banyak terdapat gazebo atau pondok-pondok untuk tempat beristirahat bagi para pengunjung. Di area Waduk ada cafe atau warung untuk tempat makan dan minum serta panggung untuk tempat pertunjukan musik


Terletak di Kelurahan Panji Sukarame sekitar 3 km dari pusat kota Tenggarong, tidak jauh dari Museum Kayu Tuah Himba. Kondisi airnya yang bersih dan pesona keindahan alam beserta isinya, membuat Waduk Panji Sukarame berbeda dengan waduk-waduk lainnya. Pemandangan unik yang lain adalah kapal Kartenegara. Tanaman- tanaman liar tumbuh subur disekelilingi kapal bersejarah pemberian Ratu Belanda Kepada Sultan Kutai.(rhi)

Sabtu, 16 Mei 2015

Planetarium Jagad Raya Tenggarong

Planetarium Jagad Raya Tenggarong terletak di Jalan Pangeran Diponegoro, di sebelah kiri bangunan Museum Mulawarman dan dibangun pada tahun 2002 dan diresmikan pada tanggal 16 April 2003 oleh Wakil Presiden RI ketika itu, Hamzah Haz. Pembangunan planetarium ini merupakan bagian dari program Gerbang Dayaku (Gerakan Pengembangan dan Pemberdayaan Kutai) yang dicanangkan oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara. Planetarium ini merupakan jendela alam semesta ketiga di Indonesia setelah di Jakarta dan Surabaya. Tempat ini juga sekaligus sarana wisata ilmu pengetahuan untuk menikmati keindahan alam semesta berupa bintang-bintang, planet dan segala sesuatu di angkasa luar.


Planetarium ini memiliki ruang pertunjukan, ruang pameran dengan 52 buah poster tentang objek-objek di tata surya, galaksi, dan alam semesta. Ada pula perpustakaan dengan ruang baca lesehan, serta 2 (dua) buah teleskop yang sering digunakan ketika ada acara pengamatan benda langit. Jika sedang dibuka untuk umum, Anda juga dapat melihat proses pengamatan hilal bulan Ramadhan dan Syawal yang dilakukan oleh Planetarium Jagad Raya bekerja sama dengan Observatorium Bosscha – Bandung dan Kementarian Komunikasi dan Informasi, atau pengamatan langit malam dalam rangka Global Astronomy Month , yang terakhir dilaksanakan April 2011 ini, pengamatan Matahari, serta astrofotografi.


Planetarium ini menggunakan proyektor bintang Sky Master ZKP-3 produksi Carl-Zeiss Jerman sebagai proyektor utamanya dengan tinggi maksimum 2750 mm dan berat mencapai 250 kg, lensa yang dimilikinya adalah 100 lensa. Memproyeksikan gambar matahari, bulan, komet, meteor, bintang, rasi, galaksi dan lain-lain. Selain proyektor utama, pada Skymaster ZKP 3 juga terdapat pendukung lainnya berupa proyektor effect dan 8 buah proyektor slide yang berfungsi untuk memproyeksikan gambar.Selain proyektor utama, terdapat sembilan proyektor lain, yaitu delapan proyektor slide yang enam di antaranya memiliki kemampuan allsky projection dan sebuah proyektor meteor. Ruang pertunjukan di planetarium ini berada di lantai dua dengan kapasitas maksimal 92 tempat duduk dengan ruangan berbentuk kubah yang memiliki diameter 11 meter.


Wahana ini dibuka setiap hari, termasuk hari libur nasional dari jam 08.00-14.00 WITA. Meski demikian, karena adanya aturan batas minimal kuota pengunjung, pada Hari Senin-Jumat, pertunjukan baru dapat diselenggarakan jika minimal ada 40 orang pengunjung. Pada akhir pekan, biasanya planetarium ini ramai dikunjungi masyarakat, sehingga terdapat pertunjukan reguler yang berlangsung setiap satu jam, mulai jam 10.00 WITA.


Planetarium juga terus dibenahi termasuk sarana dan prasarana edukasi lainnya. Salah satunya saat ini sudah terdapat taman tata surya yang menarik untuk dikunjungi yang bernama "Taman Tata Surya". taman ini termasuk langka, di Indonesia baru ada di Planetarium Jagad Raya Tenggarong. (rhi)


Jumat, 15 Mei 2015

Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara

Tepat di belakang bangunan Museum Mulawarman dan disamping Masjid Jami’ Adji Amir Hasanoeddin, berdiri sebuah bangunan megah dengan arsitektur klasik yaitu Kedaton Kutai Kartanegara, istana baru milik Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Dibangun pada tahun 2001 dan sejarah dibukanya objek wisata ini adalah untuk melestarikan budaya Kutai. Pihak Kesultanan membuat Lembaga Adat dan Dewan Adat di setiap daerah-daerah yang merupakan wilayah Kerajaan Kutai sebagai wadah untuk melestarikan budaya, fungsinya sebagai perpanjangan tangan dari Kesultanan Kutai. Pembangunan istana ini juga merupakan bagian dari program yang dicanangkan oleh pemerintah setempat untuk menghidupkan kembali Kesultanan Kutai sebagai salah satu warisan tradisi yang pernah dimiliki Kabupaten Kutai Kartanegara.


Istana yang diresmikan menjelang penyelenggaraan Festival Keraton Nusantara III yang berlangsung pada Bulan September 2002. Secara arsitektur, bangunan Kedaton Kutai mengadaptasi bentuk istana atau keraton yang pernah dibangun pada masa pemerintahan Sultan Aji Muhammad Alimuddin (1899-1910 M). Yang membedakan, konstruksi Kedaton Kutai tidak menggunakan kayu ulin (kayu besi) seperti keraton yang lama, tetapi menggunakan konstruksi beton.

Selain itu, posisi bangunan Kedaton menghadap ke arah barat, membelakangi Sungai Mahakam. Sementara, bangunan istana yang lama menghadap ke arah timur atau tepat ke arah Sungai Mahakam. Perbedaan lainnya, bangunan Kedaton Kutai memiliki lantai bawah tanah selain dua lantai yang ada pada desain aslinya.


Bagian dalam bangunan Kedaton merupakan sebuah ruangan dengan area tengah yang terbuka. Area terbuka ini berfungsi sebagai aula untuk acara-acara resmi Kesultanan. Di sisi paling timur ruangan ini, terdapat sepasang singgasana berlapis emas yang diapit dua patung Lembu Suana. Lantai dua dari bangunan berbentuk tribun selebar kurang lebih 2 meter, mengelilingi ruangan di sisi utara, barat, dan selatan dari ruang utama. Di bawah tribun ini, terdapat sejumlah ruangan, antara lain ruangan berisi gamelan yang terletak di sisi selatan singgasana dan ruang tidur pengantin di sisi utara.


Lantai bawah tanah menjadi ruangan pameran memorabilia peninggalan Kesultanan Kutai. Di antara koleksi yang tersimpan di ruangan ini adalah foto sejumlah sultan yang pernah berkuasa serta busana khusus untuk tari ganjur. Terdapat pula sejumlah dokumentasi ajang Festival Keraton Nusantara III, momen ketika para pewaris dari berbagai kesultanan di seluruh Indonesia berkumpul. Selain itu, di lantai dasar ini juga terdapat kantor lembaga (protokoler) kesultanan. (rhi)

Kamis, 14 Mei 2015

Masjid Jami’ Adji Amir Hasanoeddin Tenggarong

Masjid Jami' Adji Amir Hasanoeddin (EYD: Masjid Jami' Aji Amir Hasanuddin) adalah sebuah masjid bersejarah yang hingga kini masih berdiri kokoh di Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Masjid ini di bangun pada tahun 1874 Oleh Sultan Sulaiman. Masjid Jami' Hasanuddin masuk wilayah Kesultanan Kutai Kartanegara dan merupakan ciri khas Kerajaan Kutai yang ada pada zaman Raja Adji Mahkota berawal dari mushola kecil dan dibangun menjadi masjid berukuran besar pada tahun 1930 pada saat Kerajaan Kutai diperintah oleh Sultan Adji Mohammad Parikesit ( 1920-1959 ).


Pembangunan Masjid Jami’ Adji Amir Hasanoeddin tahap pertama dilaksanakan pada saat Kerajaan di perintah oleh Sultan Adji Mohammad Sulaiman dan tahap kedua dilaksanakan oleh cucunya yaitu Sultan Adji Muhammad Parikesit dan diprakarsai oleh seorang Menteri Kerajaan yang bernama H.A.Amir Hasanoeddin dengan gelar Haji Adji Pangeran Sosronegoro. Nama menteri inilah yang kemudian di abadikan menjadi nama Masjid ini.
Koleksi yang terdapat dalam mesjid ini adalah Menara Masjid, Tiang Guru, Mimbar masjid, dan Sudut Mihrab masjid. Bangunan mesjid dirancang permanen bercorak rumah Adat Kalimantan Timur.Atapnya tumpang tiga dengan puncaknya berupa bentuk limas segi lima.Pada setiap tingkatan ditandai ventilasi yang jumlahnya bervariasi,bergantung pada besar kecilnya bangunan.


Masjid ini memiliki peran besar bagi masyarakat Tenggarong dan sekitarnya karena mengandung nilai historis yang tidak bisa dilupakan begitu saja oleh umat islam, masjid ini sudah ditetapkan sebagai salah satu masjid yang bersejarah di Indonesia. Di masjid ini terdapat 16 tiang kayu ulin yang Besar yang mana kayu ini awalnya akan digunakan untuk adat Ritual Kutai yaitu Menduduskan yaitu pemandian putra Mahkota Yaitu Adji Punggeuk tapi malah calon raja tersebut meninggal dunia.


Akhirnya 16 tiang itu digunakan untuk proses pembuatan Masjid ini. Ketika subuh peletakan batu pertama, rakyat langsung bergotong-royong dan membuat Masjid ini tanpa upah, hanya bermodalkan Iman dan keikhlasan kepada Allah SWT. Dan perlu di ingat sebelum Masjid ini di Rehab tidak ada ada satu paku pun yang digunakan untuk Membangun Masjid ini melainkan dengan Kayu itu sendiri. (rhi)

Rabu, 13 Mei 2015

Kompleks Makam Kesultanan Kutai Kartanegara

Makam Kesultanan Kutai Kartanegara yang merupakan persemayaman abadi para sultan yang berada di kompleks Museum Mulawarman, Tenggarong, Kompleks makam ini menjadi tempat persemayaman terakhir lebih dari 140 anggota keluarga Kesultanan Kartanegara. Sebagian di antaranya adalah para sultan yang pernah berkuasa sejak berdirinya Tenggarong.


Pemakaman keluarga kerajaan ini diduga muncul hampir bersamaan dengan berdirinya Kota Tangga Arung di Tepian Pandan pada 28 September 1782 Masehi. Peristiwa ini terjadi setelah Aji Imbut berhasil merebut tahta Kesultanan Kutai dari Aji Kado yang berkuasa di ibukota lama (Pemarangan) dan secara resmi dinobatkan menjadi Sultan Kutai dengan gelar Sultan Aji Muhammad Muslihuddin, yang merupakan pendiri kota Tenggarong, sebelumnya diberi nama Tangga Arung yang mempunyai arti " Rumah Raja " kemudian hari berubah menjadi Tenggarong. Kota Tenggarong (Tangga Arung) kemudian menjadi pusat pemerintahan bagi Kesultanan Kutai sejak masa pemerintahan Sultan Aji Muhammad Muslihuddin (1780-1816 M) hingga berakhirnya Kesultanan Kutai pada tahun 1960.


Aji Imbut (Sultan Aji Muhammad Muslihuddin) menjadi sultan pertama yang dimakamkan di kompleks pemakaman ini. Dia wafat pada tahun 1838 Masehi. Beberapa sultan lain yang tercatat dimakamkan di kompleks ini yaitu Aji Muhammad Salehuddin (1816-1845 M), Aji Muhammad Sulaiman (1850-1899 M), dan Aji Muhammad Parikesit (1920-1960 M). Selain para sultan tersebut, turut dimakamkan para istri dan putra-putri mereka. Terdapat pula sejumlah ulama Kesultanan yang turut dimakamkan dalam kompleks ini sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasa mereka dalam mensyiarkan ajaran Islam di lingkungan Keraton.


Keberadaan kompleks Makam Kesultanan Kutai ini menjadi suatu indikasi akan adanya upaya untuk menyatukan makam Kesultanan Kutai dalam satu lokasi. Meski demikian, terdapat beberapa pengecualian, karena terdapat sejumlah situs makam yang terpisah dari kompleks ini. Salah satu makam yang terpisah adalah makam Sultan Muhammad Alimuddin (1899-1910 M). Makam sultan ini terdapat di perbukitan Kampung Melayu Tenggarong. Ada pula makam Panglima Legendaris Kesultanan Kutai, Awang Lor, yang gugur dalam perang melawan Belanda dan dimakamkan di Kelurahan Sukarame serta Pangeran Notonegoro, pemangku jabatan sultan semasa Aji Muhammad Parikesit masih kecil, yang dimakamkan di belakang Markas Tentara Kutai Kartanegara.


Dilihat dari berbagai nisan yang ada di kompleks pemakaman ini, diindikasikan terdapat percampuran kebudayaan yang tercermin pada bentuk nisan yang tercermin pada ragam hias di Makam Sultan Kutai Kartanegara. Pengaruh kebudayaan tersebut berasal dari budaya Dayak, Bugis, Makassar, dan Islam. Kompleks Makam Sultan Kutai Kartanegara berada dalam satu kawasan dengan Keraton Kutai Kartanegara dan Museum Mulawarman. Kompleks ini terletak di Jalan Diponegoro, Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara.(rhi)

Museum Mulawarman

Museum Mulawarman merupakan tempat sangat bersejarah yang bertempat di pusat kota Tenggarong di Ibukota Kabupaten Kutai Kartanegara, disini kita bisa mempelajari sekilas tentang sejarah dari kesultanan yang dahulu berjaya kurang lebih 7 abad dan menguasai sebagaian wilayah Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur


Bangunan Museum ini pernah berfungsi sebagai Istana Kesultanan yang didirikan pada tahun 1932 oleh pemerintah Belanda dan pada tahun 1935 diserahkan pada Masa Pemerintahan Adji Muhammad Parikesit dengan luas lahan 2.270 meter persegi. Untuk Konstruksi Bangunan dikerjakan oleh Hollandsche Beton Maatschappij (HBM) dengan desain rancangan yang dikerjakan oleh arsitek bernama Charles Marie François Henri Estourgie. Istana ini terpengaruh gaya arsitektur bangunan Eropa dan juga tradisional Suku Dayak yang ada di Kutai, dengan dilengkapi ruangan bawah tanah dan aula besar di bagian tengah bangunannya dan pintu utama menghadap tepat ke arah timur serta didominasi warna putih pada bangunan utamanya.

Ciri khas dari Museum Mulawarman pada halaman depan museum terdapat duplikat Lembu Suana yang merupakan lambang Kerajaan Kutai Kartenegara dan kolam berbentuk naga yang merupakan lambang perjalanan hidup dan penjaga alam semesta yang telah menjadi bagian dari mitos masyarakat Kutai.
Dihalaman Museum juga terdapat sebuah Totem yang terbuat dari bahan kayu ulin berukuran tinggi 13 meter dengan diameter 60 centimeter. Totem ini menggambarkan perjalanan hidup masyarakat Dayak dari lahir, beranjak dewasa sampai dengan meninggal. Di Bagian bawah juga terdapat ornament yang berbentuk guci yang menrupakan simbol dunia bawah (alam baka), sedangkan ular sawah melingkar dari bawah kepuncak Totem merupakan lambang perjalanan hidup dan lambang kejantanan (kaum pria) dan terakhir di puncak Totem, terdapat ornament burung enggang yang merupakan lambing dunia atas.

Saat kita akan masuk Museum di Gerbang museum terdapat patung dalam bentuk ular lembuh (istilah kutai), pesut dan buaya, patung ini untuk memperindahkan lingkungan museum dan memperoleh kesan menarik ciri khas kerajan Kutai Kartenegara. Untuk masuk ruang pameran dapat melewati pintu utama pada bagian depan dengan anak tangga pada bagian kiri dan kanan tangga terdapat arca patung harimau/macan sebagai symbol penjaga keamanan.

Di dalam Museum tersimpan benda-benda yang mempunyai nilai sejarah / seni yang tinggi yang pernah digunakan oleh Kesultanan seperti :

• Singgasana, sebagai tempat duduk Raja dan Permaisuri. Kursi ini terbuat dari kayu, dudukan dan sandarannya diberi berlapis kapuk yang berbungkus dengan kain yang berwarna kuning, sehingga tempat duduk dan sandaran kursi tersebut terasa lembut. Kursi ini dibuat dengan gaya Eropa, penciptanya adalah seorang Belanda bernama Ir. Vander Lube pada tahun 1935


• Patung Lembu Swana Lambang Kesultanan Kutai, dibuat di Birma pada tahun 1850 dan tiba di Istana Kutai pada tahun 1900. Lembu Swana diyakini sebagai Kendaraan Tunggangan Batara Guru. Nama lainnya adalah Paksi Liman Janggo Yoksi, yakni Lembu yang bermuka gajah, bersayap burung, bertanduk seperti sapi, bertaji dan berkukuh seperti ayam jantan, berkepala raksasa dilengkapi pula dengan berbagai jenis ragam hias yang menjadikan patung ini terlihat indah

• Latar belakangnya Singgasana terdapat dua mozaik gambar Sultan Kutai Kartanegara ke-17 A.M. Soelaiman dan Sultan Kutai Kartanegara ke-18 A.M. Alimoeddin

• Payung kebesaran Kesultanan.

• Tiga buah patung perunggu dari Eropa.

• Meriam Sapu Jagad Peninggalan VOC, Belanda

• Kalung Uncal, benda ini merupkan atribut dan benda kelangkapan kebesaran Kesultanan Kutai Kartanegara yang digunakan pada waktu penobatan Sultan Kutai menjadi Raja atau pada waktu Sultan merayakan ulang tahun kelahiran dan penobatan Sultan serta acara sakral lainnya

• Prasasti Yupa, yang trdapat di Museum ini adalah tiruan dari Yupa yang asli yang terdapat di Museum Nasional di Jakarta. Prasasti Yupa adalah prasasti yang ditemukan di bukit Brubus Kecamatan Muara Kaman. ke-7 prasasti ini menadakan dimulainya zaman sejarah di indonesia yang merupakan bukti tertulis pertama yang ditemukan dan berhuruf Pallawa bahasa Sansekerta

• Seperangkat Gamelan dari Keraton Yogyakarta 1855

• Arca Hindu

• Seperangkat Meja Tamu peninggalan Kerajaan Bulungan

• Ulap Doyo, hasil kerajinan Suku Dayak Benuaq

• Minirama tentang sejarah Kerajaan Kutai Kartanegara

• Koleksi Numismatika (mata uang dan alat tukar lainnya)

• Koleksi Keramik dari Cina, Jepang, Vietnam dan Thailan

• Pakaian kebesaran para Sultan Kutai


• Kalung

• Tenunan dari suku Dayak Benuaq namanya adalah Ulap Doyo dan alat tenun tradisional

• Senjata api dan Senjata tradisional, Seperti Tombak dan Keris


• Ukiran-ukiran khas dari suku Dayak Kenyah, Benuaq, busang, modang, Punan dan etnis Dayak lainnya

• Keramik Cina, Eropa, Jepang,Vietnam,Thailand

Selain itu disebelah kanan gedung Museum Mulawarman terdapat areakomplek makam raja-raja Kutai Kartenegara dan kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara. Area makan yang di lengkapi dengan penataan taman yang sangat bagus. Dibelakang area belakang juga terdapat miniature Goa Kombeng, dimana Goa Kombeng adalah lokasi ditemukannya Arca dan Prasasti Yupa, bendanya dapat kita lihat dalam ruang pameran tetap museum (R. 7 lantai II). selain itu juga di samping museum terdapat bangunan Bleh Peteh yaitu wadah untuk kalangan bangsawan suku Dayak Kenyah, patung-patung Blontang yang berfungsi sebagai peralatan upacara adat kematian suku Dayak dan beberapa bentuk lungun yang semuanya ditata secara evokatifkantin dan toko souvenir khas Kutai Kartanegara.

Dihalaman belakang Museum juga berdiri Masjid Jami Hasanuddin Tenggarong sebagai saksi masuknya Islam di Kutai yang dibuat pada tahun 1930 pada saat Kerajaan Kutai diperintah oleh Sultan Adji Mohammad Parikesit ( 1920-1959 ).Pembangunan Masjid Jami’ Adji Amir Hasanoeddin tahap pertama dilaksanakan pada saat Kerajaan di perintah oleh Sultan Adji Mohammad Sulaiman dan tahap kedua dilaksanakan oleh cucunya yaitu Sultan Adji Muhammad Parikesit dan diprakarsai oleh seorang Menteri Kerajaan yang bernama H.A.Amir Hasanoeddin dengan gelar Haji Adji Pangeran Sosronegoro. Nama menteri inilah yang kemudian di abadikan menjadi nama Masjid ini.

Sejarah Museum Mulawarman tidak dapat dipisahkan dari sejarah budaya Kalimantan Timur secara keseluruhan. Setelah masa kemerdekaan, Kesultanan Kutai bergabung dengan NKRI dan istana ini pun tidak lagi digunakan karena era kekuasaan sultan secara resmi berakhir. Istana ini kemudian diserahkan kepemilikannya kepada pemerintah daerah Kalimantan Timur pada 25 November 1971, yang kemudian diserahkan pengelolaannya kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sebagai sebuah museum negara. Berdirinya museum Mulawarman saat diberlakukannya Undang-undang Nomor 17 tahun 1959 membentuk daerah Tingkat II Kutai. Pada tahun 1966 Kepala Kejaksaan Tinggi Kalimantan Timur mengeluarkan ketentuan 01/Pem/KKTI/1966 tanggal 6 oktober, yang menyatakan bahwa semua benda milik pribadi atau warisan dikembalikan pada pribadi sedang benda milik Kerajaan menjadi milik Negara.

Sebagai realisasi keinginan masyarakat serta pemerintah untuk memelihara peninggalan sejarah Kerajaan Kutai Kartenegara, maka pada tanggal 25 November
1971, pemerintah Kabupaten Dearah Tingkat II Kutai mendirikan museum yang di beri nama Museum Kutai, merupakan bagain dari PUSKORA (Pusat Kebudayaan dan olah raga yang di resmikan oleh PANGDAM IX) mulawarman Brigjen Sukertiyo.

Sebagai hasil perundingan antara Pemerintah Daerah Tingkat I Kalimantan Timur dan Pemerintah Daerah Tingkat II Kutai serta Departemen Pendidikan dan kebudayaan (DEPDIKBUD), maka pada 18 Februari 1976, Museum Kutai diserahkan pengelohannya oleh Gubernur Kalimatan Timur pada waktu itu, Brigjen Abdul Wahab Syharani kepada DEPDIKBUD, yang diterima oleh Dirjen Kebudayaan Prof. Dr.Ida Bagus Mantra atas nama MENDIKBUD R.I.

Sejak saat itu museum Negeri Propinsi Kalimantan Timur “Mulawarman” berstatus sebagai Museum Negeri Propinsi dan pengesahannya berdasarkan SK.MENDIKBUD tanggal 28 mei 1979, Nomor :093/0/1979 yang merupakan unit pelaksana teknis direktorat jenderal kebudayaan. Pemakaian nama Mulawarman untuk mengabdikan seorang raja Kutai Martadipura yang terkenal arif dan bijaksana. (rhi)

Selasa, 12 Mei 2015

Lembuswana

Logo Lembuswana sering kita lihat di lambang pemerintahaan Kutai Kartanegara dan bisa kita jumpai di beberapa titik lokasi dalam bentuk Patung seperti dihalaman Museum Mulawarman,di Pulau Kumala, dan tempat lainnya di Kabupaten Kutai Kartanegara.

Lembuswana bagi rakyat Kutai Kartanegara sudah dianggap satwa mitologi yang juga merupakan lambang Kerajaan Kutai hingga Kesultanan Kutai Kartanegara. Konon kemunculan Lembuswana ini dianggap menjadi penguasa Sungai Mahakam serta juga dikaitkan dengan lahirnya Putri Karang Melenu yang muncul bersamaan dengan satwa ini dari dasar Sungai Mahakam. Kelak, di kemudian hari sang putri pun menikah dengan Raja Aji Batara Agung Dewa Sakti. Dari sang putri inilah kemudian dilahirkan penerus dinasti raja-raja Kutai Kartanegara. Hewan ini menjadi hewan dalam mitologi rakyat Kutai yang disucikan karena merupakan tunggangan Mulawarman, yang bertahta sebagai Raja Kutai sekitar 1.500 tahun silam. Inilah Lembuswana, sosok berwarna keemasan yang identik dengan kawasan Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.


Lembuswana atau dikenal juga dengan nama Paksi Liman Jonggo Yokso berwujud binatang lembu atau sapi yang memiliki belalai dan bertaring seperti gajah. Memiliki sayap seperti burung, memiliki kuku dan taji seperti ayam jantan, bersisik seperti naga, serta bermahkota bagaikan seorang raja.



(rhi)